Selasa, 28 Februari 2012

Konsep Dasar Keperawatan


BAB I

SEJARAH PERKEMBANGANPERAWAT



1.1 Sejarah Perkembangan Perawat di Dunia



a). Zaman Mother Instinct

Zaman dimana awal manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa, pada masa ini sudah terjadi kegiatan perawatan, baik perawatan pada diri sendiri maupun perawatan pada anggota keluarga, kegiatan tersebut berupa :

o  Perawatan diri sendiri, membersihkan badan yang kotor dengan air bersih, memenuhi kebutuhan akan makanan dan cairan dan lain-lainnya

o  Kegiatan merawat anak – anaknya yang sakit serta berupaya melindungi anaknya agar tidak terjadi sakit

o  Memberikan ASI pada bayinya

o  Dan lain-lain



b). Zaman Animisme

Pada zaman ini manusia belum mengenal adanya Yang Maha Kuasa, manusia punya keyakinan dan kepercayaan pada kekuatan mistik dan roh jahat, kepercayaan pada dewa sebagai penyebab penyakit. Mereka punya anggapan bahwa sakit yang dialami anggota keluarganya merupakan akibat dari melanggar aturan dewa sehingga dewanya marah maka terjadilah penyakit.

Maka untuk penyembuhan penyakit ini perlu perawatan oleh pemuka masyarakat yang mampu berkomunikasi dengan dewa sebagai penyebab penyakit tersebut, pemuka masyarakat dikenal dengan “pendeta”. Saat merawat orang sakit pendeta dibantu oleh asistenya yaitu “diakones dan philantrop”. Diakones adalah sekelompok wanita tua dan philantrop adalah sekelompok janda, keduanya bertugas membantu pendeta untuk merawat orang sakit.



c). Zaman Keagamaan

Pada zaman ini manusia sudah mengenal adanya Yang Maha Kuasa. Dunia ini ada tida begitu saja tetapi ada yang menciptakannya. Manusia pada zaman ini sudah memiliki agama Langit, yaitu ajaran agama yang diturunkan oleh Sang Maha Pencipta melalui Nabi dan RasulNya. Pada zaman ini manusia punya anggapan bahwa orang sakit karena adanya dosa akibat melanggar norma-norma agama, sehingga Tuhan marah dan memberikan kutukan pada orang tersebut, maka orang itu menjadi sakit.

Sehingga untuk proses penyembuhannya hanya bisa dilakukan dengan cara minta maaf pada Tuhan melalui pemuka agama yang pada zaman itu dinamakan dengan “Tabib” dan orang sakit tadi dirwat ditempat-tempat ibadah.Dalam melakukan tugasnya Tabib dibantu oleh asistenya “perawat” yang pada masa itu masih dianggap sebagai budak karena dia bekerja atas perintah pemimpin agama.



d). Zaman Masehi

            Zaman masehi dimana manusia sudah mengalami kemajuan dan peradaban. Pada zaman ini orang sudah mengenal dan memahami pentingnya kesehatan. Sehingga pda zaman ini banyak pembentukan diakones yang bertujuan utk merawat orang sakit. Selain dari diakones, pada zaman ini juga adanya perkumpulan laki – laki yang bekerja sebagai pengubur bayi yg meniggal agar tidak terjadi bau busuk yang bisa mencemari lingkungan mereka.



Pada zaman ini perkembangan berbagai ilmu pengetahuan sangat pesat sekali seperti ilmu pengetahuan alam, ilmu matematika, ilmu geografi. Ilmu dibidang kesehatan juga ikut mengalami kemajuan, di bidang kesehatan orang sudah punya pikiran harus ada suatu tempat yang bisa menampung dan merawat  orang sakit, sehingga pada zaman ini berdirilah rumah sakit pertama di Roma dengan nama   “ Monastic Hospotal”.

Fungsi rumah sakit zaman itu berbeda dengan fungsi rumah sakit saat sekarang. Zaman selain menampung dan merawat otang sakit juga berfungsi untuk merawat orang cacat, menampung orang miskin dan menampung anak-anak yang ditinggal bapak dan ibunya “Yatim Piatu”



e). Zaman Permulaan Abad 21

            Pada zaman ini munculnya sistem kasta dan kelompok sosial dimasyarakat. Adanya kelompok orang kaya, kelompok penguasa, kelompok orang miskin dan dan rakyat biasa. Pada zaman ini orang yang  bisa mendapatkan pelayanan kesehatan hanya orang yang kaya dan kelompok penguasa, sehingga kelompok lain tidak begitu pendapatkan perawatan kesehatan jika dia menderita sakit. Pada masa ini sangat kental sekali kelihatan adanya ketimpangan sosial dalam mendapatkan pelayanan kesehatan, sehingga pada zaman ini terjadi peningkatan kasus penyakit kronis dampak dari penyakit awal yang tidak diobati serta tingginya angka kematian ibu dan janin.

           





f).  Zaman Sebelum Perang Dunia-II

            Pada zaman ini tumbuh rasa cinta dan kasih sayang yang tinggi antar manusia, rasa kekerabatan yang akrab serta semangat gotong royong yang tinggi. Sehingga jika ada salah satu warga yang sakit, warga yang lain ikut membantu mencarikan solusi untuk proses penyembuhannya.

            Pada zaman ini manusia sudah memikirkan, jika ada orang yang sakit maka diperlukan tenaga terampil yang bisa merawat orang sakit. Sehingga untuk menjawab hal itu ”Florence Nigtingle” mendirikan sekolah perawat pertama di dunia yang diberi nama“ Nigtingle Nursing School”

Pada masa ini perkembangan keperawata juga terlihat bagaimana peran seorang Florence Nigtingle dalam merawat korban perang ”Krim” yaitu perang antara Roma dan Turki, beliau merawat korban yang luka dibarak-barak penampungan dengan peralatan sadanya. Saat merawat pasien beliau lakukan dengan perasan yang tulus dan hati yang ikhlas tanpa membedakan agama, tanpa membedakan bangsa, setiap yang membutuhkan bentuan itulah ”pasien saya”. Pada zaman ini juga berdiri sebuah rumah sakit di London dengan nama ” Thomas Hospital”



g). Zaman Perang Dunia Ke-II

            Pada zaman ini para pemimpin negara di dunia terfokus pada penekanan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam memenuhi kebutuhan alat perperangan untuk mempertahankan negara dan memperluas kekuasaannya. Sehingga pada masa ini ilmu keperwatan tidak bisa berkembang dengan baik, bisa dikatakan hanya jalan ditempat dan bahkan ada yang mengatakan ilmu keperawatan pada zaman ini mengalami kemunduran, ini bisa dilihat dengan bukti yang ada, pada zaman ini tidak ada satupun terjadi pendirian rumuah sakit yang baru, korban perang hanya dirawat dibarak dengan bantuan dan fasilitas yang sangat minim sekali.

           

h). Zaman Pasca Perang Dunia Ke-II

            Setelah redanhya suasana perang dunia ke-2, keadaan sudah mulai kondisf kembali dan  masyarakat mulai sadar akan pentingya kesehatan, orang tidak bisa melakukan aktivitas tanpa didukung oleh jiwa dan raga yang sehat. Pada zaman ini dunia kesehatan dan dunia keperawatan mengalami perkembangan yang sangat signifikan. Pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat sudah beragam  bukan hanya kuratif tetapi sudah ada preventif dan promotif. Begitu juga dalam melakukan tindakan perawatan pada pasien yang sakit tidak dilakukan oleh satu disiplin ilmu tetapi sudah multi disiplin, adanya kerja sama antara dokter, perawat, farmasi dan lain-nya, sehingga pada masa dikenal adanya “mekanisme kerja tim”. Setelah dilihat betapa pentingnya peran dan fungsi perawat dalam merawat orang yang sakit maka pada tahun 1948 perawat diakui sebagai suatu profesi dalam pelayanan kesehatan pada masyarakat.



i). Zaman Tahun 1950

Dari zaman ke zaman perkembangan ilmu keperawatan selalu mengalami kemajuan. Pada zaman ini keperawatan sudah menemukan adanya suatu mekanisme dan urutan kerja  dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien. Pada zaman ini sudah dineka adanya 4 tingktan proses keperawatan, yaitu adanya pengkajian, perencanaan, tindakan dan evaluasi.

Dibidang dunia pendidikan  dan keilmuan, keperawatan juga selalu mengalami peningkatan dan perkembangan yang sangat pesat. Perkembangan ini bisa dilhat dengan berdirinya program pendidikan S2 Dan S3 Keperawatan di USA. Perkembangan ini menunjukan bahwa dunia keperawatan juga tidak kalah dengan perkembangan ilmu-ilmu lainnya yang ada di dunia.



1.2 Sejarah Perkembangan Perawat Di Indonesia



a). Zaman Sebelum Kemerdekaan

            Sebagai mana kita ketahui bahwa negara ini pernah di jajah ratusan tahun oleh negara asing. Pada zaman penjajahan ini dunia perawatan di Indonesia juga mengalami perkembangan walaupun tidak sama pesatnya dengan perkembangan dunia keperawatan yang ada di Eropa dan Amerika. Ini bisa dilihat pada zaman penjajan Belanda  tahun 1799 di Indonesia sudah ada pendirian rumah sakit yang bernama “Binnen Hospital”  yang berlokasi Di Jakarta.

            Untuk merawat orang sakit dirumah sakit dilakukan oleh 2 kelompak perkerja yang dikenal dengan “Verpleger” dan  “Zieken Opaser”. Verpleger adalah sekelopmpok pekerja yang bertugas merawat orang yang sakit, sedangkan Zieken Opaser adalah sekelompok perkerja yang bertugas menjaga orang sakit.  

Pada masa penjajahan Inggeris yang dipimpin oleh  Rafless saat itu, dunia keperawatan di Indonesia mengalami peningkatan yang sangat pesat sekali. Pada Pemerintahan Inggris ada 4 kebijakan tentang kesahatan, yaitu :

  • Kesehatan untuk semua

Pada masa semua lapisan masyarakat berhak untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan tanpa memandanh kekayaan, keturunan maupun kekuasaan



  • Pencacaran secara umum

Untuk mencegah penyebaran wabah cacar, pemerintah Inggris melakukan vaksinasi cacar secara umum untuk masyarakat Indonesia

  • Perawatan klien dengan gangguan jiwa

Suasana perang dan situasi politik yang tidak baik menyebabkan tingginya angka gangguan jiawa saat itu, maka untuk mengatai hal ini Pemerintah Inggris menjalankan progran perawatan pada pasien gangguan jiwa.

  • Peningkatan kesehatan tahanan



Tepatnya pada Tahun 1815 berdirilah rumah sakit ” Stadsuerband” Di Jakarta. Pada tahun 1919 Rumah sakit ini Pindah Ke Salemba dan berganti nama dengan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM)



b). Zaman Setelah Kemerdekaan

Setelah Indonesia merdeka 14 Agustus 1945 maka suasana sudah mulai berubah, seluruh pemerintahan sudah dibawah kendali pemerintah Republik Indonesia. Pada zaman ini perkembangan dunia kesehatan dan keperawatan mulai mengalami perkembangan. Ini bisa dilihat pada  tahun 1945 : banyak berdirinya rumah sakit dan balai-balai pengobatan.

Untuk merawat orang sakit maka diperlukan tenaga terampil dan terdidik, maka pada tahun 1952 mulai di dirikan Sekolah Perawat Kesehatan (SPK) pertama di Indonesia. Seupluh tahun berikutnya atau tepatnya tahun 1962 berdiri pula Akademu Keperawatan (AKPER) pertama di Indonesia dan padan tahun 1985 di buka fakultas SI keperawatan di Universitas Indonesia, kemudian diikuti oleh Universitas Padjadjaran Bandung, Univeritas Gajah Masa Yogyakarta, dan universitas lainnya.  

           





















BAB II

KEPERAWATAN SEBAGAI PROFESI



1.1 Pengertian profesi

            Keperawatan merupakan bahagian integral dari pelayanan kesehatan. Keperawatan sudah diakui sebagai profesi di Indonesi, dibawah ini adalah pengertian profesi dari beberapa ahli :

a). Schein EH (1962)

Profesi merupakan sekumpulan pekerjaan yang membangun suatu norma yang sangat khusus yang berasal dari perannya di masyarakat



b). Hugges (1963)

Profesi adalah mengetaui yang lebih baik tentang suatu hal dari orang lain serta mengetahui lebih baik dari kliennya tentang apa yang terjadi pada kliennya                                                         



c). Abraham Flexner (1915)

Menurut Abraham ada 4 kriteria bidang pekerjaan, sehingga pekerjaan tersebut dapat dikatakan suatu profesi, diantaranya adalah :

o    Adanya aktivitas intelektual

Pekerjaan yang dilakukan tersebut memiliki keagiatan intelektual, bukan bedasarkan kemungkinan, ataupun ramalan sehingga hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melakukan kegiatan tersebut.

o    Berdasarkan ilmu dan belajar untuk tujuan praktek pelayanan

Pekerjaan yang dilakukan harus berdsasarkan ilmu pengetahuan yang didapat di bangku pendidikan khusus sehubungan dengan profesinya. Pekerjaan yang dilakukan itu berhubungan dengan jasa atau pelayanan yang diberikan kepada masyarakat.

o    Dapat diajarkan

Pekerjaan yang dilakukan harus bisa dipelajari dan bisa diajarkan kepada orang lain

o    Terorganisir secara internal

Bidang pekerjaan tersebut harus mempunyai organisasi, sebagai lembaga yang dapat mengayomi anggota profesi





d). Greenwood. E (1957)

Menurut Greenwood ada 4 kategori yang harus dimiliki oleh suatu bidang pekerjaan, sehingga pekerjaan tersebut layak dikatakan suatu profesi, diantaranya adalah :

o    Adanya teori yang sistematik

Memiliki konsep dan teori yang sistematik, diamana konsep dan teori ini khusus untuk profesi tersebut.



o    Otoritas

Bidang pekerjaan tersebut hanya bisa dilakukan oleh orang yang ahli dan pekerjaan itu tidak dapat dilakukan oleh orang lain yang tidak memiliki keahlian. Dengan kata lain pekerjaan itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang tercatat sebagai anggota profesi



o    Wibawa

Pekerjaan yang dilakukan mempunyai wibawa yang tinggi dalam melakukan pelayanan kepada masyarakat.



o    Kode etik dan budaya profesional

Bidang pekerjaan yang dilakukan harus mempunyai kode etik yang berfungsi sebagai rambu-rambu bagi anggota organisasi dalam memberiakan pelayanan kepada masyarakat. Dalam kode etik terdapat aturan dan tata cara pemberian pelayanan, tentang apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan oleh anggota profesi.

Selain itu pekerjaan yang dilakukan harus memiliki budaya profesional, bekerja dengan memperhatikan segala aspek yang berhubungan dengan keamanan, kenyamanan dan keselamatan seorang penerima pelayanan.



e). Hall (1968)

Hall mengemukakan ada 3 hal penting yang melekat pada suatu pekerjaan sehingga pekerjaan tersebut layak dikatakan suatu profesi, diantaranya adalah:

o    Telah memperoleh pendidikan di perguruan tinggi

Sebelum seseorang melakukan bidang perkerjaan tersebut dia harus lulus jenjang pendidikan tinggi. Untuk bidang keperawatan minimal harus tamatan D III keperawatan



o    Menjadi pekerjaan utama

Pekerjaan yang dilakukannya harus menjadi pekerjaan yang utama, dalam keseharian waktunya lebih banyak digunakan untuk meberikan pelayanan kepada mayarakat sesuai dengan profesinya.



o    Adanya organisasi profesi

Pekerjaan tersebut memiliki lembaga yang bisa mengayomi para anggota profesi. Tempat berkumpul dan merbagi informasi serta membantu para anggota dalam menyelesaikan masalah yang berhubungan dengan praktek profesi.



o    Adanya kode etik

Memiliki rambu-rambu sebagai pedoman bagi anggota dalam melaksanakan pelayanan kepada kliennya.



f). Moore and Rosenblom (1970)

Menurut Moore dan Rosenblom, minimal ada 5 kategori yang dimiliki oleh bidang pekerjaan sehingga pekerjaan tersebut layak dikatakan suatu profesi, diantaranya adalah :

o     Memiliki teori yang sistematik

o     mempunyai otoritas

o     Mempunyai wibawa

o     Mempunyai kode etik dan budaya profesional

o     Menjadi sumber utama penghasilan



g). Flaherty. M (1979)

Flaherty. M berpendapat, minimal ada 5 kriteria pekerjaan dikatakan suatu profesi, diantaranya adalah :

o     Adanya pendidikan khusus

o     Adanya kode etik

o     Adanya keahlian / keterampilan

o     Adanya keanggotaan dlm organisasi profesi

o     Adanya pertanggung jawaban tindakan







h). Edgar Schein (1974)    

Menurut Edgar Schein, minimal ada 7 kriteria yang dimiliki oleh bidang pekerjaan sehingga pekerjaan tersebut layak dianggap sebagai profesi, diantaranya adalah ;

o     Pekerjaan seumur hidup dan penghasilan utama

o     Adanya motivasi yang kuat

o     Adanya klpk ilmu pgth khusus

o     Berorientasi pd pelayanan

o     Mempunyai standar pendidikan

o     Adanya izin dan ujian masuk karier profesi

o     Adanya organisasi



i). Miller (1985)

Menurut Miller, minimal ada 3 kriteria yang dimiliki oleh bidang pekerjaan sehingga pekerjaan tersebut layak dianggap sebagai profesi, diantaranya adalah ;

o     Adanya pengetahuan yg diperoleh dari perguruan tinggi

o     Mempunyai landasan teoritis yang jelas

o     Keterampilan dan kompetensi mrp batasan keahlian



j). Shortrige (1985)

Sedangkan menurut Shortrige, minimal ada 4 kriteria yang dimiliki oleh bidang pekerjaan sehingga pekerjaan tersebut layak dianggap sebagai profesi, diantaranya adalah ;

o   Kode etik yang berfungsi sebagai dasar dalam pelaksanaan tugas

o   Berorientasi pada pelayanan

o   Berdadsarkan ilmu pengetahuan

o   Mempunyai otonomi dan tanggung jawab pada profesi

           

Hakekat Keperawatan (Lokakarya 1983)



Berdasarkan hasil Lokakarya keperawatan tahun 1983 dirumuskan bahwa :

  • Keperwatan  merupakan suatu bentuk pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang didasarkan pada ilmu dan kiat keperawatan
  • Pelayanan yang diberikan dalam bentuk pelayanan biologi, psikologi, sosial dan spiritual yang komprehensif
  • Pelayanan ditujukan kapad individu, keluarga, kelompok dan masyarakat baik sakit maupun sehat yangg mencakup seluruh proses kehidupan manusia
  • Keperawatan sebagai ilmu dan seni

§  Dalam aplikasinya mengarah pada ilmu terapan dengan menggunakan pengtahuan, konsep dan prinsip

§  Mempertimbangkan seni dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia

§  Dalam prakteknya  menggunakan metode ilmiah untuk penyelesaian masalah dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar manusia



o   Sebagai profesi yang berorientasi pada pelayanan

            Perawat berusaha dengan segala tindakan untuk membantu klien mengatasi masalahnya untuk mencapai kesejahteraan

           

  • Mempunyai sasaran dalam pelayanan

Sasaran pelayanan keperawatan adalah individu, keluaga, kelompok khusus, dan masyarakat. Kelompok khusus disini adalah, kelompok balita, lansia, ibu hamil dan lain-lain.



  • Pelayanan keperawatan mencakup seluruh rentang pelayanan kesehatan

§  Peningkatan dan pembinaan kesehatan (Promotif)

§  Pencegahan penyakit (Preventif)

§  Penentuan diagnosis dini (Early diagnosis)

§  Peyembuhan (Kuratif)

§  Rehabilitasi dan pembatasan kecacatan (Rehabilisatif)



Keperawatan Sebagai Profesi Di Indonesia



Ada beberapa alasan kenapa perawat di Indonesia bisa dianggap sebagai profesi, diantaranya adalah :

  • Merupakan salah satu pekerjaan dimana dalam menentukan tindakannya  didasari ilmu pengetahuan serta memiliki keterampilan dalam keahliannya
  • Mempunyai otonomi dan kewenangan dalam tanggung jawab
  • Mempunyai  kode etik dalam bekerja
  • Bberorientasi pada pelayanan melalui pemberian asuhan keperawatan  pada individu, keluarga, kelompok khusus dan masyarakat.



Keperawatan sah sebagai profesi karena :

  1. Landasan ilmu pengatahuan-nya jelas

o   Ilmu kep dasar

o   Ilmu kep klinik

o   Ilmu kep komunitas

o   Kelompok ilmu penunjang

2.  Memiliki kode etik profesi

3. Memiliki organisasi profesi yaitu Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI)

           

















































BAB III

Proses Keperawatan



3.1 Pengertian Proses Keperawatan

            Ada berapa ahli yang mengemukakan tentang pengertian proses keperawatan, diantaranya adalah :

  1. Tarwoto – Wartonah

Proses keperawatan adalah metode pengorganisasian yang sistematis dalam melakukan asuhan keperawatan pada individu, keluarga, kelompok  dan masyarakat yang berfokus pada identifikasi dan pemecahan masalah dari respon klien terhadap penyakitnya



b.   Wolf and Weitzel

            Proses keperawatan adalah serangkaian perbuatan/tindakan untuk menetapkan, merencanakan dan melaksanakan pelayanan keperawatan dalam rangka membantu klien untuk mencapai dan memlihara derajat kesehatan yang optimal.Tindakan keperawatan dilaksanakan secara berurutan, terus menerus, saling berkaitan dan dinamis



c. Ann Mariner

          Penerapan pemecahan masalah keperawatan secara ilmiah yang digunakan untuk mengidentifikasi masalah-masalah klien secara sistematis dan melaksanakannya serta mengevaluasi hasil tindakan yang telah dilaksanakan



d. Malinda Murray

         Metoda kerja dalam pemberian pelayanan keperawatan untuk menganalisa masalah klien secara sistematis, menentukan cara pemecahannya, melaksanakan tindakan dan mengevaluasi tindakan yang telah dilaksanakan



e. Yura

Tindakan yang berurutan, dilakukan secara sistematis untuk  menentukan masalah klien, membuat perencanaan untuk mengtasainya, melaksanakan rencana itu atau menugaskan orang lain untuk melaksanakannya dan mengevaluasi keberhasilan secara efektif terhadap masalah yang diatasinya





f. Herber

Metode ilmiah yang digunakan secara sistematik untuk mengkaji dan mendiagnosa status kesehatan klien, merumuskan hasil yang akan dicapai, menentukan intervensi dan mengevaluai mutu dan hasil asuhan yang dilakukan terhadap klien



Dari beberapa definisi diatas dapat dusimpulan bahwa kesimpulan proses keperawatan :

a)   Suatu pendekatan yang sistematis untuk mengenal masalah klien dan mencarikan alternatif pemecahan masalah dalam memenuhi kebutuhan klien

b)  Merupakan proses pemecahan masalah yang dinamis dalam memperbaiki dan meningkatkan kesehatan klien sampai ke tahap maksimum

c)   Merupakan pendekatan ilmiah yang terdiri dari 4 tahap, yaitu :

o  Pengkajian

o  Perencanaan

o  Pelaksanaan

o  Evaluasi



3.2 Tujuan Proses Keperawatan

            Penulisan proses keperawatan dalam memberikan asuhan keperawatan kepada klien mempunyai tujuan berupa :

  1. Mempraktekan metoda pemecahan masalah dalam praktek keperawatan
  2. Menggunakan standar untuk praktek keperawatan
  3. Memperoleh metoda yang baku sesuai dengan rasional dan sistematis
  4. Memperoleh metoda dalam asuhan keperawatan yang dapat digunakan dalam segala situasi
  5. Agar memeperoleh hasil asuhan keperawatan dengan kualitas tinggi



3.3 Fungsi Proses Keperawatan

Proses keperawatan mempunyai beberapa fungsi, diantaranya adalah :

  1. Sebagai kerangka berpikir untuk fungsi dan tanggung jawab dalam ruang lingkup yang sangat luas
  2. Sebagai alat untuk mengenal masalah klien, merencanakan secara sistematis, malaksanakan rencana dan menilai hasil









3.4 Sifat Proses Keperawatan

            Karena manusia bersifat unik dan karena faktor lainnya maka proses keperawatan harus bisa dilaksanakan dalam kondisi apapun, maka dari itu proses keperawatan harus memiliki beberapa macam sifat, diantaranya adalah :

  1. Dinamis

            Dapat berubah sesuai dengan situasi, kondisi serta kebutuhan klien yang unik

  1. Siklus

            Berjalan secara siklus yang berurutan dan tidak boleh dilewati dari masing-masing tahap proses keperawatan

  1. Interdependen

            Saling ketergntungan antara tahap yang satu dengan tahap yang lainnya

  1. Fleksibel

             Mempunyai sifat yang luwes, tidak kaku, karena tingkah laku fisik, kondisi fisik, mental, emosional dapat berubah sesuai situasi



3.5 Alasan Penggunaan Proses Keperawatan

Dibabawah ini beberapa alasan kenapa dalam memberikan asuhan keperawatan harus menggunakan proses keperawatan, diantaranya adalah :

a.       Meningkatnya  tuntutan masyarakat akan pelayanan keperawatan

b.       Profesionalisme, sesuai dengan konsep bahwa dalam melakukan kegiatan menggunakan pendekatan proses keperawatan

c.       Untuk efektivitas dan efisien pelayanan keperawatan

d.       Untuk menigkatkan peranserta dan keterlibatan klien dalam pelayanan keperawatan



3.6 Keuntungan Menggunakan Proses Keperawatan :

            Ada beberapa keuntungan yang bisa didapat jika perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada kliennya menggunakan proses keperawatan. Keuntungan tersebut berupa :

  1. Dapat meningkatkan mutu pelayanan keperawatan
  2. Pengembangan keterampilan intelektual dan teknis tenaga perawat
  3. Peningkatan citra keperawatan dan tenaga keperawatan
  4. Meningkatkan peran dan fungsi perawat dalam pengelolaan asuhan keperawatan
  5. Pengakuan otonomi keperawatan oleh masyarakat dan profesi lain
  6. Peningkatan kepuasan tenaga keperawatan
  7. Untuk pengembangan ilmu keperawatan

3.7 Kemampuan Yang Harus Dimiliki Perawat :

Seorang perawat harus memiliki beberapa kemampuan agar dapat memberikan pelayanan yang berkualitas kepada klien, kemampuan yang harus dimiliki perawata berupa

a.        Kemampuan intelektual

            Perawat mampu mebuat keputusan yang tepat dan berpikir secara kritis

b.       Kemampuan hubungan antar manusia

            Memudahkan perawat menjalin hubungan dengan klien maupun anggoat  tim kesehatan

c.      Kemampuan teknis

            Merupakan kunci keberhasilan dalam melaksanakan asuhan keperawatan



















































BAB IV

TAHAPAN PROSES KEPERAWATAN



Secara teori ada 2 pendapat yang mengemukakan tentang tahapan proses keperawatan, ada yang berpendapat bahwa proses keperawtan terdiri dari 4 tahap yaitu pengakajian, perencanaan keperawatan, tindakan keperawatan dan evaluasi. Namun ada pendapat lain yang mengemukakan bahwa proses keperawatan terdiri dari 5 tahap karena dia beranggapan bahwa sebelum perencanaan harus didahului dengan dignosa keperawatan, sehingga proses keperawatan itu menjadi : pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaa keperawatan, implementasi keperawatan dan  evaluasi.



4.1.Pengkajian

            Pada saat perawat melakukan pengkajian pada seorang pasien ada 4 tahap yang harus dilakukan, diantaranya adalah :

o     Pengumpulan data

o     Validasi data

o     Pengorganisasian data

o     Analisa data



4.1.1 Dasar Pemikiran Pengkajian

Ada beberapa alasan penting yang merupakan dasar pemikiran kenapa seorang perawat harus melakukan pengkajian sebelum melakukan menegakan diagnosa dan menrencanakan tindakan kepada pasien.

a)           Individu merupakan sesuatu yang unik

Walaupun manusia dilahirkan dari ibu dan bapak yang sama, bahkan anak kembar siampun memiliki sifat dan karakter yang berbeda sehingga seorang perawat tidak bisa mendapatkan data yang akurat tanpa terlebih dahulu melakukan pengkajian.

Respon pasien terhadap penyakit akan berbeda-beda karena dipengaruhi oleh banyak hal seperti, usia, jenis kelamin, ras, pengalaman dan lain-lainya. Misalnya respon ambang nyeri orang ras kulit hitam akan berbeda dengan ambang nyeri orang ras kulit putih.



b)          Individu merupakan suatu system

Tubuh manusia terdiri dari berbagai sistim tubuh, seperti sistem pernafsaan, sistem pencernaan, sistem kardiovaskuler, sistem endokrin dan sistem tubuh lainnya. Gangguan pada salah satu sitem tubuh akan memberi dampak pada sistem tubuh yang lainnya. Misalnya seseorang mengalami gangguan pada sistem kardiovaskuler, tekanan darahnya turun, tekanan darah yang rendah akan mempengaruhi suplai oksigen dan nutrisi kejaringan, karena jaringan kekurangan oksigen maka akan memacu paru-paru untuk meningkatkan aktivitanya. Kadang sering kita temui jika ada pasien hipotensi sudah pasti dia mengalami sesak nafas. Maka dari itu saat perawat melakukan pengkajian pasien harus hati-hati dan mengkaji sistem apa saja yang mungkin terganggu akibat dari satu sistem yang mengalami penyakit.



c)           Individu merupakan multi dimensi dan satu kesatuan

Manusia terdiri dari beberapa dimensi yaitu biologi, psikologi, social dan spiritual. Gangguan pada salah satu dimensi ini kadang akan berakibat gangguan pada dimensi yang lain. Misalnya seseorang mengalami gangguan pada dimensi psikologi/gangguan jiwa kadang akan mengalami gangguan orientasi sehingga tidak bisa membedakan mana hal yang nyata dan mana yang tidak nyata. Kapan harus makan, kapan harus mandi dan kapan harus beribadah, dia tidak tahu sama sekali. Jika seseorang kurang makan, kurang minum maka lama kelamaan akan mengalami gangguan pada fisik atau biologi.

Maka dari itu pada saat perawat melakukan pengkajian pada seorang pasien harus secara teliti dan komprehensif. Pengakjaian yang menyeluruh dan teliti tentu akan mendapatkan hasil yang lebih baik dan akurat sehingga semua masalah yang dialami pasien bisa di ketahui dengan jelas.



4.1.2 Tujuan pengkajian :

  1. Mendapatkan informasi tentang keadaan kesehatan klien
  2. Untuk menentukan masalah keperawatan dan kesehatan klien
  3. Untuk menilai masalah kesehatan klien
  4. Untuk membuat keputusan yang tepat dalam menentukan langkah selanjutnya



Saat perawat melakukan pengkajian pada seorang klien, seorang perawat akan menemukan 2 data yaitu data dasar dan data fokus. Data dasar adalah data yang didapatkan sejak pertama kali kontak antara perawat dengan pasien, sedangkan data fokus adalah data yang didapatkan selama pasien menjalani proses perawatan.







4.1.3 Pengumpulan Data

Merupakan proses mengumpulkan informasi tentang pasien yang dilakukan secara sistematis untuk menentukan masalah serta kebutuhan keperawatan klien. Ada beberapa infirmasi yang harus dikaji pada saat mengumpulkan data untuk keperluan perawatan pasien, informasi yang harus dikaji berupa :

  1. Segala sesuatu tentang pasien sebagai mahkluk bio-psiko-sosial dan spiritual
  2. Kemampuan pasien dalam mengatasi masalah sehari – hari
  3. Masalah kesehatan dan keperawatan yang mengganggu kemampuan pasien
  4. Keadaan sekarang yang berkaitan dengan rencana yang akan dilakukan terhadap pasien

Sumber Data

Data tentang riwayat kesehatan pasien bisa diperoleh dari berbagai sumber, diantaranya adalah data :

1.      Data primer

            Merupakan data yang didapatkan lansung dari pasien, bisa berupa data subjektif ataupun data objektif



  1. Data sekunder

Merupakan data yang didapatkan dari orang terdekat klien yang mengetahui banyak tentang status kesehatan klien, misalnya ayah klien, ibu klien, adik klien, kakak klien, dan lain-lainnya). Jika data didapatkan dari orang terdekat klien maka data tersebut harus diklarifikasi lagi kepada klien jika kliennya kooperatif, supaya data yang didapat lebih terjamin kebenarannya.



  1. Data tertier

Data yang didapatkan dari sumber lain seperti catatan kesehatan klien (perawatan – medik) dan riwayat penyakit dan kesehatan masa lalu klien.



Jenis  Data

            Secara teoritis data yang didapat dari hasil pengkajian terdiri dari 2 jenis, yaitu :

  1. Data objektif

Merupakan data yang diperoleh dari hasil pengukuran dan pemeriksaan dengan menggunakan standar yang berlaku

            Contoh :

    • Suhu tubuh
    • Tekanan darah
    • Bising usus
    • Warna rambut
    • Denyut nadi
    • Frekuensi pernafasan
    • Dan lain-lain

           

  1. Data subjektif

Merupakan data yang diperoleh dari keluhan yang disampaikan klien dan keluarga.

Contoh :

o   Pasien mengatakan ada rasa nyeri pada perut kanan bawah

o   Pasien merasa mual

o   Pasien mengatakan kurang nafsu makan

o   Pasien mengatakan nyeri saat buang air kecil

o   Dan lain-lain



Cara Pengumpulan

            Secara untuk mendapatkan data dari klien, maka perawat dapat melakukannya dengan 2 cara yaitu :

  1. Wawancara

Wawancara lansung dengan klien atau keluarga. Teknik dilakukan untuk mendapatkan data subjektif, seperti data riwayat kesehatan klien, maupun keluhan klien yang lainnya

  1. Pemeriksaan fisik

Dilakukan untuk mendapatkan data yang akurat maka perawat melakukan pemeriksaan fisik pada semua bagian tubuh klien. Pemeriksaan fisik yang dilakuan pada klien bisa dengan berbagai cara seperti :

a.   Inspeksi

          Suatu metode pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan menggunakan indra penglihatan.

           Contoh :

o  Penyebaran rambut klien, rata atau tidak rata

o  Warna konjungtiva, anemis atau tidak

o  Warna sklera, ikterik atau tidak





b.   Auskultasi

Suatu metode pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan menggunakan indra pendengaran

Contoh :

o  Bunyi napas klien whezzing

o  Bising usus klien 15 kali/menit

o  Bunyi jantung bayi terdengar 140 kali/menit

c.   Palpasi

Suatu metode pemeriksaan fisik yang dilakukan dengan cara meraba.

Contoh :

o   Badan klien teraba hangat

o   Denyut nadi klien teraba 48 kali/menit

o   Kulit klien teraba kasar

d.   Perkusi

Suatu metode pemeriksaan fisik dengan cara mengetok permukaan tubuh klien dan mendengarkan bunyi yang dihasilkan dari proses pengetokan tersebut.

Contoh :

o   Pada organ yang padat saat di ketok akan terdengar bunyi yang redup

e.   Olfaksi

Suatu metode pemeriksaan fisik dengan menggunakan indra penciuman

Contoh :

o   Rambut kien berbau

o   Mulut klien berbau



Metode Pemeriksaan Fisik

            Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada klien bisa dengan 2 metode, yaitu :

a)      Cephalo caudal / Head to toe

Pemeriksaan fisik dilakukan mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki.

b)     Sistem

Pemeriksaan dilakukan berdasarkan sistem yang ada dalam tubuh manusia, sitem pernafasan, sistem pencenaan, sistem kardiovaskuler, dan sistem lainnya.







  1. Data hasil kolaborasi denga team kesehatan lain

Selain dari  data hasil wawancara dan pemeriksaan fisik ada lagi cara yang bisa digunakan sebagai rujukan untuk mendapatkan data klien yaitu dengan cara kolaborasi dengan tim kesehatan lain.



Beberapa Hal Yang Harus Diperhatikan Saat Wawancara



            Klien merupakan mahkluk yang unik  yang terdiri dari bio-psiko-sosial dan spiritual. Sikap dan gerakan tubuh yang perawat yang kurang sopan akan menghalangi klien untuk menceritakan semua keluhan yang dirasakannya, maka saat wawancara dengan klien ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat wawancara dengan klien, diantaranya adalah :

  1. Menerima keberadaan klien apa adanya
  2. Memberikan kesempatan pada klien untuk menyampaikan keluhan/ pendapatnya secara bebas
  3. Perawat harus dapat menjamin rasa aman dan nyman klien
  4. Perawat harus bersikap tenang, sopan dan penuh perhatian
  5. Menggunakan bahasa yang mudah dimengerti
  6. Tidak bersipat menggurui



4.1.4 Validasi data

Validasi data sangat perlu dilakukan sebelum mengambil kesimpulan tentang apa yang dialami klien. Dengan validasi data seorang perawat melakukan telaah kembali apakah data yang didapatkan sudah benar cara pemeriksaannya, apakan sudah benar sumbernya, apakah sudah benar waktu mendapatkannya, jika perawat sudah yakin itu benar maka data yang didapatkan tersebut sudah bisa dipertangung jawabkan untuk merumuskan masalah kesehatan klien.

      Contoh :

o   Apakah sudah menggunakan skala yang akurat saat melakukan pengukuran suhu tubuh klien

o   Jika data di dapat dari keluarga à klarifikasi pada klien

o   Apakah data tersebut sudah ditanyakan pada sumber yang lebih mengetahui







4.1.5 Pengorganisasian Data

Setelah dilakukan validasi maka data yang sudah dianggap valid dikelompokan berdasarkan kerangka kerja yang dapat membantu mengidentifikasi masalah/kebutuhan klien. Secara umum kerangkan kerja yang dipakai dalam proses keperawatan adalah kerangka kerja kbutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow. Kebutuhan dasar manusia diurut jadi lima tingkatan mulai kebutuhan fisiologis, kebutuhan rasa aman dan nyaman, kebutuhan dicinntai dan mencintai, kebutuhan harga diri dan kebutuhan aktualisasi diri.



4.1.6 Analisa Data

Merupakan kemampuan kognitif dalam mengembangkan daya pikir dan penalaran yang dipengaruhi oleh latar balakang ilmu pengetahuan, pengalaman dan pengertian keperawatan serta kemampuan mengkaitkan data serta menghubungkan data tersebut dengan teori, konsep dan prinsip yang relevan untuk membuat kesimpulan dalam menentukan masalah kesehatan dan keperawatan klien.



Ada beberapa dasar seorang perawat dalan melakukan analisa data, diantaranya adalah pemahaman tentang ilmu :

  1. Anatomi dan fisiologi
  2. Patologi penyakit
  3. Mikrobiologi dan parasitologi
  4. Farmakologi
  5. Ilmu perilaku
  6. Konsep manusia
  7. Konsep sehat sakit
  8. Konsep stress dan adptasi
  9. Tindakan dan prosedur keperawatan
  10. dan lain-lain



Pedoman Analisa Data

            Sebelum seorang perawat melakukan analisa data, ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar tidak terjadi kesalahan dalam merumuskan masalah yang dialami oleh klien, diantaranya adalah :

1.     Menyusun kategori data secara sistematis dan logis

2.     Identifikasi kesenjangan data

3.     Menentukan pola alternatif pemecahan masalah

4.     Menerapkan teori, model, kerangka kerja, norma dan standar yang dibandingkan dengan data atau kesenjangan yang ditemukan

5.     Identifikasi kemampuan dan keadaan yang menunjang asuhan keperawatan bisa dilakukan



Cara Analisa Data

            Ada 4 cara yang dilakukan pada saat perawat melakukan analisa data, diantaranya adalah :

1.      Validasi data, meneliti kembali data yang terkumpul

2.      Mengelompokan data berdasarkan kebutuhan bio-psiko-sosial dan spiritual

3.      Membandingkan dengan standar

4.      Membuat kesimpulan tentang kesenjangan data (masalah)



Contoh :

TN.A  usia56 tahun, Berat badan 60 kg, Tinggi badan 156 cm

Data Subjentif :

o   Klien mengeluh haus

o   Klien mengatakan “kemaren saya pergi kenduri dan banyak makan kue dan minum sirop, beberapa jam kemudian muntah terus dan nyeri pada perut”

Data Objektif :

o   Kulit kering

o   Urin out put 300 cc/ 2 jam

o   Berat badan 60 Kg, Tinggi 156 cm

o   Gula darah 300 mg %

o   Urin reduksi ++

o   Nadi 64 kali permenit

o   Suhu 37,8 0C

o   Tekanan darah 100/60 mmHg

Dari data subjektif dan data objektif kelihatan data yang tidak normal, berupa :

·    Pengeluaran urin yang berlebihan (Normalanya 1-2 cc/KB BB/Jam), maka jika berat 60 Kb urin yang harusnya keluar adalah 120-240 cc

·    Kulit kering à indikasi kekurangan cairan

·    Klien haus à indikasi kekurangan cairan

·    Nadi cepat à indikasi kekurangan cairan

·    Tekanan darah turun à indikasi kekurangan cairan

·    Suhu badan sedikit meningkat à indikasi kekurangan cairan



Maka dari data yang didapat bisa disimpulkan bahwa pada Tn. A telah terjadi pengeluaran cairan yang berlebihan karena proses osmotik à sehingga Tn. A kekurangan cairan.



4.2 Diagnosa keperawatan

            Setelah melakukan pengkajian maka tapan prsoses keperawatan yang berikutnya adalah merumuskan diagnosa keperawata. Diagnosa keperawatan merupakan landasan bagi seorang perawat untuk menyusun rencana tindakan yang akan dilakukan pada klien yang dirawatnya.



4.2.1 Pengertian Diagnosa Keperawatan

            Ada beberapa ahli dibidang keperawatan yang mengemukakan pendapatnya tentang pengertian diagnosa keperawatan, diantaranya adalah :



a)      Yura

Menurut Yura yang dimaksud dengan diagnosa keperawatan adalah pernyataan atau kesimpulan yang diambil dari pengkajian tentang status kesehatan klien



b)      American  Nurse Asociation (ANA)

Diagnosa keperawatan merupakan masalah kesehatan yang aktual dan potencial. Masalah kesehatan  aktual à masalah ditemukan pada saat melakukan pengkajian dan msalah kesehata potensial à masalah yg mungkin akan timbul kemudian

                                     

c)      Gordon           

            Diagnosa keperawatan adalah diagnosa yang dibuat oleh perawat profesional, menggambarkan tanda dan gejala yang menunjukan masalah kesehatan yang dirasakan klien dimana perawat berdasarkan pendidikan dan pengalamannya mampu menolong klien tersebut



d)      Christine Ibrahin :

Diagnosa keperawatan adalah suatu pernyataan yang jelas, padat dan pasti tentang status dan masalah kesehatan klien yang dapat ditanggulangi dengan tindakan keperawatan

e)   Edel

      Menurut Edel diagnosa keperawatan merupakan         adanya masalah kesehatan dimana klien memerlukan bantuan untuk mempertahankan atau meningkatkan kesehatannya atau meninggal dengan damai serta adanya diagnosa keperawatan             menggambarkan :

o    Masalah kesehtan aktual

o    Masalah kesehatan potensial

o    Perkembangan perilaku



Dari bererapa pendapat tadi dapat disimpulkan bahawa yang dimaksud dengan diagnosa keperawatan adalah

            1. Respon klien (individu, keluarga, kelompok khusus dan masyarakat)

            2. Bersifat aktual / potensial / resiko

            3. Berdasarkan pengkajian

            4. Merupakan fungsi independen perawat dan perawat bertanggung gugat



4.2.2 Persyaratan Diagnosa Keperawatan

            Secara konsep ada 7 persyaratan untuk menegakan diagnosa keperawatan yang benar, diantaranya adalah :

1. Rumusan harus jelas dan singkat

            2. Spesifik dan akurat

            3. Memberikan arahan pada asuhan keperawatan

            4. Dapat dilaksanakan oleh perawat

            5. Mencerminkan keadaan kesehatan klien

            6. Berorientasi pada klien (individu, keluarga, kelompok dan masyarakat)

            7. Dapat diatasi dengan tindakan keperawatan

           

4.2.3 Kegunaan Penulisan Diagnosa Keperawatan

            Diagnosa keperawatan yang dibuat oleh perawat berdasarkan hasil pengkajian mempunyai beberapa kegunaan, diantaranya adalah :

  1. Memberikan asuhan keperawatan secara komprehensif
  2. Kesatuan bahasa dalam profesi keperawatan
  3. Meningkatkan komunikasi antara perawat dan profesi lain
  4. Membantu merumuskan hasil yang diharapkan dalam menjamin mutu keperawatan
  5. Memncerminkan suatu kemungkinan

Formula Penulisan Diagnosa Keperawatan

P + E + S à Masalah Aktual

P + E à Masalah Potensial / Resiko



P : Problem

o   Merupakan gambaran keadaan klien dimana tindakan keperawatan dapat diberikan

o   Masalah adalah kesenjangan / penyimpangan dari keadaan normal yang seharusnya tidak terjadi

Masalah yang dialami oleh klien ada “masalah keperawatan” dan ada “masalah kolaboratif”. Masalah keperawatan adalah jika masalah yang dialami klien dapat ditanggulangi oleh perawat dengan keahlian yang dimilikinya. Sedangkan masalah kolaboratif adalah jika masalah yang dialami klien hanya bisa diatasi melalui kerja sama antara perawat dengan tim kesehatan lain.



E : Etiologi

Merupakan penyebab masalah yang menimbulkan perubahan status kesehatan pada klien. Etiologi ini bisa bermacam-macam, seperti :

o   Tingkah laku yang tidak sesuai dengan perilaku kesehatan

o    Patofisiologi, proses perjalanan penyakit akibat akibat dari kuman maupun proses lainnya yang bisa menimbulkan gangguan kesehatan

o   Psikologi

o   Perubahan situasional



S : Symtom / Sign

Merupakan ciri, tanda dan gejala yang  sebagai informasi yang diperlukan untuk merumuskan diagnosa keperawatan. Walau demikian harus dihindari membuat diagnosa berdasarkan 1 data saja, minimal ada 3 tanda dan gejala.



Contoh :

  1. Ketidakseimbangan cairan dan eletrolit b/d diare dan muntah ditandai oleh turgor kulit buruk, selaput mukosa mulut kering, perasaan haus, urin keluar 300 ml/ 2 jam, nadi lemah dan cepat, td 80/60 mmhg   (P + E + s)
  2. Ketidakmampuan memenuhi kbth oksigen b / d obstruksi jalan nafas  ditandai oleh pernafasan tridor, dipsnoe, cianosis (P + E + S)
  3. Gangguan personal higyene b/d kelemahan fisik  (P + E)

Kategori Diagnosa Keperawatan :

  1. Aktual (P + E + S)
  2. Resiko tinggi / potensial (P + E)

 Resiko gangguan keseimbangan cairan dan eletrolit………

  1. Wellness (diagnosa sehat – sejahtera)

      Perilaku mencari bantuan kesehatan b/d kurangnya pengetahuan tentang cara menyusui yg benar

  1. Kemungkinan

            Kemunginan ggn konsep diri b/d………..

  1. Sindrom : dx muncul akibat suatu kejadian atau situasi tertentu  

                                Sindrom disuse b/d tindakan amputasi



4.3 Rencana Tindakan Keperawatan

            Tahapan proses keperawatan yang ketiga setelah diagnosa adalah perencanaan keperawatan. Rencana yang yang buat harus sesuai dengan dengan msalah yang dialamim klien. Dalam penulisan rencana harus mengacu kepada situasi dan kodisi serta sarana dan prasarana yang ada ditempat kita bekerja.

 4.3.1 Pengertian Rencana Keperawatan

            Ada beberapa orang ahli yang mengemukakan pendapatnya tentang pengertian rencana keperawatan, diantaranya adalah :

  1. Hunt Jenifer dan Mark

Rencana keperawatan adalah catatan yang ada tentang intervensi /rencana keperawatan.

  1. Mayer

Rencana keperawatan adalah pengkajian yang sistematis dan identifikasi masalah, penentuan tujuan dan pelaksanaan serta tatacara atau strategi.



Dari pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa rencana keperaawatan adalah suatu proses penyusunan berbagai intervensi keperawatan yang dibutuhkan untuk mencegah, menurunkan atau mengurangi masalah klien.



4.3.2 Tujuan Rencana Keperawatan

            Seorang perawata harus memhami tentang tujuan peulisan rencana keperawatan, diantaranya adalah:

  1. Sebagai alat komunikasi antara sesama anggota perawat dan antar tim kesehatan lain
  2. Uutuk meningkatkan kesinambungan asuhan keperwatan pada klien
  3. Mendokumentasikan proses dan kriteria hasil asuhan kepereatan yang akan dicapai



4.3.3 Kegunaan Rencana Keperawatan

            Sedangkan kegunaan penulisan rencana keperawatan adalah sebagai berikut :

  1. Sebagai penghubung kebutuhan klien
  2. Untuk menjelaskan intervensi keperawatan yang harus dilaksanakan
  3. Untuk meningkatkan praktek sehingga mendapatkan pengertian yang lebih jelas tentang prinsip proses keperwatan
  4. Menjadi dasar pendekatan yang sitematis terhadap asuhan keperawatan



4.3.4 Langkah Dalam Menyusun Rencana Keperawatan

            Ada beberapa yang harus dilakukan oleh seorang perawat pada saat menyusun rencana tindakan keperawatan, supaya rencana yang dibuat bisa dilaksanakan dengan baik sesuai dengan tujuan yang diharapkan, diantaranya adalah :

1)      Menetapkan prioritas        

2)      Menentukan tujuan dan hasil yang akan dicapai

3)      Menentukan/ menulis rencana tindakan



Ad1) Menetapkan Prioritas

1.      Berdasarkan tingkat kegawatan/mengancam jiwa

Yang dimaksud dengan menurut prioritas disini adalah seberapa besar masalah tersebut bisa menimbulkan acaman keselamatan jiwa klien. Semakin besar kemungkinan mengancam jiwa maka prioritasnya semakin tinggi. Dalam meprioritas masalah berdasarkan tingkat kegawatan ini dapat dibagi atas tiga tingkatan, yaitu :



a.   Prioritas tinggi/segera

                   Suatu keadaan yang mengancam kehidupan klien, sehingga perlu dilakukan tindakan terlebih dahulu.

                   Contoh :

o   Gangguan kebersihan jalan nafas

o   Klien yang mengalami serangan jantung akut





b.  Prioritas sedang

                   Suatu kondisi dimana jika masalah yang dialami klien memerlukan pelayanan yang tepat terhadap suatu keadaan yang tidak mengandung resiko tinggi     

                    Contoh :

o   Klien yang mengalami penurunan nafsu makan

o   Klien yang mengalami peningkatan suhu tubuh



c.   Rendah

Suatu kondisi dimana masalah timbul secara perlahan, tidak berhub lansung dengan penyakit dan biasanya dapat ditolerir sendiri oleh klien

Contoh :

o   Klien yang mengalami kecemasan karena mau operasi adpendik

o   Klien yang mengalami kecemasan karena mau melahirkan anak pertama.



2. Berdasarkan kebutuhan Malow

Memprioritaskan masalah berdasarkan 5 tingkatan kebutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow. Kebutuhan yang paling mendasar harus lebih diprioritaskan dari kebutuhan lainnya. Sehingga bisa dilihat bahwa urutan masalah menurut Abraham Maslow adalah :

a.       Gangguan kebutuhan fisiologis, yang terdiri dari :

o   Gangguan respirasi

o   Gangguan suhu tubuh

o   Gangguan nutrisi

o   Gangguan cairan dan eletrolit

o   Gangguan elimasi

o   Gangguna mobilisasi

o   Gangguan intehgritas Kulit

o   Dan lain-lain



b.     Gangguan kebutuhan keamanan dan keselamatan, diantaranya adalah :

o   Lingkungan yang tidak aman dan nyaman

o   Kondisi T4 Tinggal yang tidak kondusif/mengancam derajat kesehatan

o   Perlindungan terhadap bahaya

o   Pakaian bebas dari infeksi

o   Bebas dari rasa takut

c.      Kebutuhan dicintai dan mencintai, diantaranya adalah:

o   Kebutuhan kasih sayang

o   Kebutuhan seksualitas

o   Kebutuhabn hubungan antar sesama manusia

d.       Kebutuhan harga diri, diantaranya adalah:

o   Kebutuhan respek dari keluarga

o   Kebutuhan perasaan menghargai diri sendiri

e.        Kebutuhan aktualisasi diri, diantarnya adalah:

o    Kepuasan terhadap lingkungan



ad2) Menentukan Tujuan Dan Hasil Yang Akan Dicapai

            Langkah berikutnya dalam menyusun rencana tindakan keperawatan adalah menentukan tujuan yang akan dicapai. Pada saat menetapakan tujuan ada beberapa hal yang harus menjadi perhatian perawat, diantaranya adalah:

1.    Berdasarkan masalah yang telah dirumuskan

2.    Merupakan hasil akhir yang ingin dicapai

3.    Harus objektif/ operasional antara perawat – klien

4.    Tujuan perawat harus sejalan tujuan klien

5.    Mencakup tujuan jangka panjang dan jangka pendek

6.    Mencakup kriteria keberhasilan sebagai dasar evaluasi

7.    Menjadi pedoman dari rencana tindakan keperawatan



Secara umum tujuan dalam keperawatan ada 2 macam yaitu tujuan jangka pendek dan tujuan jangka panjang. Perbedaan tujuan jangka panjang dan janngka pendek ditentukan oleh indikator waktu pencapaian tujuan tersebut. Indikator waktu untuk tujuan jangka pendek adalah ”jam dan hari” sedangkan indikator waktu untuk tujuan jangka panjang adalah ” minggu dan bulan”



Supaya tujuan yang dibuat bisa dipahami oleh semua orang dan tujuan bisa dicapai, maka ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan saat merumuskan tujuan dalam asuhan keperawatan, diantanranya adalah:

1.                           Berfokus pada klien

2.                           Jelas dan singkat

3.                           Dapat diukur (measurable)

4.                           Memiliki batas waktu yang jelas (time bond)

5.                           Realistik

6.                           Ditetuntukan oleh perawat dan klien



Perumusan Kriteria Keberhasilan kriteria keberhasilan

Ada beberapa teknik yang harus diperhatikan pada saat merumuskan kriterian keberhasilan, diantaranya adalah:

1.       Dinyatakan sebagai hasil à perubahan status kesehatan klien

2.       Menentukan apakah tujuan dapat dicapai

3.       Menentukan kriteria keberhailan yang bisa dilihat dari perubahan perilaku klien



Ciri Kriteria Keberhasilan

            Untuk itu seorang perawat harus memahami tenyang ciri-ciri kriteria keberhasilan, diantaranya adalah:

1.       Berhubungan dengan tujuan

2.       Bersifat khusus dan konkrit

3.       Hasil dapat obseservasi dengan cara :

o  Dilihat

o  Didengar

o  Diraba

o  Dan diukur oleh perawat

4.      Dinyatakan dgn istilah yg positif



Formula Penulisan Tujuan :        S + P + K1 + K2 + T atau T + S + P + K1 + K2

S ( Subjek)                   : Perilaku klien yang bisa diamati

P (Prediket)                 : Kondisi yang melengkapi klien

K1 (Kriteria)                : Kata kerja yang dapat diukur

K2 (Kondisi)                : Sesuatu yang menyebabkan pemberian asuhan keperawatan

T ( Waktu)                   : Waktu yang diperlukan untuk mencapai tujuan        



Contoh :          

S ( Subjek)                   : Klien

P (Prediket)                 : Mampu mengeluarkan

K1 (Kriteria)                : Sekresi  paru

K2 (Kondisi)                : Tanpa bantuan

T ( Waktu)                   : Pada tanggal 15 Januari 2011

Dengan Kriteria Hasil :           

o   Suara nafas bersih

o   Tidak ada suara nafas tambahan

o   Frekunesi pernafasan 16 – 20 kali/ menit

o   Irama nafas teratur

o   Tidak terdapat batuk

o   Tidak ada sianosis



Contoh :          

T          : Dalam waktu satu minggu

S          : Klien

P          : Mampu merawat

K1       : Kebersihan diri sendiri

K2       : Tanpa bantuan perawat



Dengan Kriteria Hasil :           

o   Klien dapat mandi sendiri minimal 1 kali sehari

o   Pasien dapat menggati pakaian sendiri

o   Pasien mampu berdandan rapi sesuai waktu

Contoh :          

Pasien dapat bernafas normal tanpa bantuan kateterisasi oksigen yang dipasang oleh perawat pada tanggal 15 Januari 2011

S          : Klien

P          : Dapat bernafas secara normal

K1       : Tanpa bantuan kateter oksigen

K2       : Yang dipasang oleh perawat

T          : Pada tanggal 15 Januari 2011



Ada beberapa hal yang harus diperhatikan pada saat menentukan rencanakan tindakan keperawatan, diantaranya adalah:

  1. Mengidentifikasi alternatif tindakan
  2. Menetapkan teknik dan prosedur keperawatan yang akan digunakan
  3. Melibatkan klien dalam menyusun rencana
  4. Melibatkan anggota tim kesehatan lain
  5. Mengetahui latar belakang agama dan budaya
  6. Mempertimbangkan lingkunga, sumberdaya dan fasiltas yang ada
  7. Memperhatikan kebijakan dan peraturan yang ada
  8. Tindakan harus menjamin rasa aman klien
  9. Mengarah pada tujuan yang akan dicapai
  10. Tindakan harus bersifat realitas
  11. Tindakan disusun menurut prioritas



Kriteria Dalam Merencanakan Tindakan

            Agar rencanatindakan bisa dilakukan dengan baik sehingga hasil yang dicapai  bisa maksimal, maka ada beberapa criteria yang harus diperhatikan saat merumuskan rencana tindakan, diantanranya adalah:

1.      Memakai kata kerja yang tepat

2.      Dapat di modifikasi

3.      Bersifat spesifik :

o   Siapa yang melakukan

o   Apa yang dilakukan

o   Dimana dilakukan

o   Kapan dilakukan

o   Bagaimana dilakukan

o   Frekuansi melakukan (berapa kali)



Ad3) Menentukan/Menulis  Rencana Asuhan Keperawatan

  1. Berorientasi pada tujuan yang akan dicapai
  2. Menggunakan standar dan kriteria hasil
  3. Menggambarkan kriteria dan standar normal
  4. Hasilnya dapat diukur, diraba, didengar dan dilihat
  5. Dinyatakan dengan istilah yang positif



4.3.4 Faktor Yang Harus Diperhatikan Dalam menulis  Rencana Asuhan Keperawatan

            Ada 5 faktor penting yang harus diperhatikan pada saat menulis rencana asuhan keperawatan, yaitu :

  1. Harus berupa kalimat instruksi, berfungsi untuk menjelaskan asuhan keperawatan yang akan dilakukan

            à instruksi ringkas, tegas, tepat dan mudah dimengerti

  1. Dibuat oleh tenaga keperawatan
  2. Harus dalam bentuk tertulis, dengan bahasa yang mudah dimengerti sehingga dapat digunakan alat komunikasi
  3. Info harus selalu baru
  4. Diarsipkan pada tempat yang ditetntukan

à Sebagai tanggung jawab/ tanggung gugat



4.3.5 Tipe Instruksi Perawatan Dalam Rencana Tindakan

      Dalam menulis rencana keperawatan terdapat 4 tipe instruksi, yaitu :

1.       Tipe Diagnostik

Menilai kemungkinan klien kearah pencapaian kriteria hasil dengan observasi lansung

Contoh :

25/9/2011 : Kaji ROM ekstermitas atas klien pada tanggal 28/9/2011

(Tanda Tangan)

                       

2.   Tipe Terapeutik

            Tindakan yang dilakukan perawat secara lansung untuk mengurangi, memperbaiki dan mencegah kemungkinan masalah

Contoh :

25/9/2011 : Lakukan ROM pasif pada kaki kiri klien 4 kali sehari     

(Tanda Tangan)

           

3.    Tipe Penyuluhan

             Digunakan untuk meningkatkan perawatan diri klien dengan membantu klien untuk memperoleh tingkah laku yang mempermudah pemecahan masalah

Contoh :

25/9/2011 : Ajarkan klien tenik batuk efektif pada tanggal 27/9/2011

(Tanda Tangan)

                      

4.     Tipe Rujukan

            Menggambarkan peran perawat sebagai koordinator dan menejer dalam perawatan klien dalam team kesehatan



Contoh :

25/9/2011 : Konsulkan klien dengan ahli terapi fisikmengenai kemajuan klien memakai walker   (tanda tangan)





4.4. Implementasi/Tindakan Keperawatan

            Implemantasi keperawatan merupakan tahap keempat dalam proses keperawatan. Implementasi yang baik dan tepat waktu akan mempengaruhi hasil yang akan dicapai. Maka dari itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan saat melakukan saat melakukan tindakan keperawatan, diantaranya adalah:

  1. Selalu memperhatikan bahaya fisik dan perlindungan pada klien
  2. Selalu mengutamakan teknik komunikasi yang baik
  3. Kemampuan perawat dalam melakukan prosedur tindakan
  4. Pemahaman perawat tentang hak – hak klien



4.4.1 Fokus Implementasi Keperawatan

            Secara umum ada 6 macam focus implementasi keperawatan, diantaranya adalah :

  1. Mempertahankan daya tahan tubuh
  2. Mencegah komplikasi
  3. Menemukan perubahan
  4. Memantapkan hubungan klien dengan lingkungan
  5. Implementasi pesan dokter
  6. Mengupayakan rasa aman, nyaman dan keselamatan



4.4.2 Jenis Tindakan Keperawatan

            Tindakan keperawatan yang dilakukan pada klien terdiri terdiri dari 3 jenis, yaitu :

1.  Tindakan secara mandiri (Independen)

            Tindakan mandiri adalah tindakan yang diprakarsai sendiri oleh perawat untuk membantu klien mengatasi masalahnya

Contoh :

o   Menciptakan lingkungan terapeutik

o   Memberikan perawatan rambut



2.  Saling ketergantungan (Interdependen)

            Tindakan saling ketergantungan adalah tindakan keperawatan atas dasar kerja sama team perawatan atau team kesehatan lain

Contoh :

o   Pemberian obat sesuai intruksi dokter (jenis dan         dosis obat)

           

            Efek samping obat adalah tanggung jawab dokter. Jika terjadi efek samping akibat kandungan zat yang terdapat dalam obat, dan itu menimbulkan gangguan kesehatan klien maka yang bertanggung jawab secara hukum untuk masalah ini adalah dokter. Misalnya resep obat atau dosis obat yang salah.

            Kesalahan dalam cara emberian obat tanggung jawab  perawat. Misalnya obat yang harusnya di berikan melalui intra muskular (masuk kedalam otot) tetapi perawat memberikan secara intravena (masuk kedalam pembuluh darah). Jika terjadi efek samping akibat cara pemberian ini maka yang bertanggung jawab adalah perawat. Maka dari itu sebelum perawat memberikan obat kepada klien harus memperhatikan prinsip 5 benar yaitu, benar obat, benar cara pemberian, banar waktu, benar dosis dan benar kliennya.



3.  Rujukan/ketergantungan (Dependen)

            Tindakan keperawatan atas dasar rujuan dari team kesehatan lain

Contoh :

o   Pemberian makanan sesuai dengan diet yang telah ditetukan oleh ahli gizi



4.4.3 Prinsip Implementasi Keperawatan

  1. Berdasarkan pada respon klien
  2. Berdasarkan penggunaan sumber yang tersedia
  3. Meningkatkan kemampuan perawatan diri sendiri (self care)
  4. Sesuai dengan standar praktek keperawatan
  5. Memiliki dasar hukum
  6. Sesuai dengan tanggung jawab praktek keperawatan
  7. Kerjasama dengan profesi lain
  8. Penekanan pada preventif dan promotif
  9. Meningkatkan peran serta klien dalam asuhan keperawatan
  10. Menerapkan metode keperawatan yang paling efktif



4.4.4 Pelaksanaan Tindakan Keperawatan

  1. Lansung

Pelaksanaan tindakan lansung disini adalah jika seorang perawat yang telah melakukan pengkajian sampai perencanaan dan dia juga yang melakukan tindakan keperawatan pada seorang klien tanpa melibatkan orang lain dalam melakukan tindakan keperawatan.

2.   Delegasi

            Delegasi disini adalah perawat yang menemukan masalah tidak secara lansung melakukan tindakan tetapi untuk pelaksanaan tindakan diserahkan pada perawat lain yang dapat dipercaya untuk melakukan tindakan pada pasien.



4.4.5 Fase Implementasi Keperawatan

            Implementasi keperawatan terdiri dari 3 fase. Pada masing-masing fase perawat melakukan kegitan yang berbeda. Adapun kegitan yang dilakukan pada masing-masing fase adalah:

1.   Fase persiapan (Pre Interaksi)

     Fase ini merupakan fase dimana perawat belum melakukan tindakan keperawatan pada klien. Perawat bersiap-siap untuk melakukan tindakan yang akan dia lakukan, maka ada beberapa hal yang harus dilakukan agar tindakan bisa berjalan dengan lancar, diantaranya adalah:

o    validasi instruksi keperawatan

o    siapkan pengetahuan dan keterampilan

o    siapkan klien (fisik dan psikologi)

o    siapkan lingkungan



2.    Fase Tindakan  (Interaksi)

            Pada tahap ini perawat dengan segala keterampilannya mulai melakukan tindakan keperawatan kepada klien asuhannya. Supaya tidak terjadi hal-hal yang bisa membahayakan klien maka ada beberapa hal yang harus dilakukan, diantaranya adalah:

o   Lakukan instruksi dengan orientai tujuan

o   Yakinkan keamanan  fisik dan psikologi klien

o   Amati respon klien terhadap tindakan

                       

3. Fase Terminasi 

            Fase ini merupakan tahapan akhir dari fase implementasi keperawatan. Pada fase ini ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh perawat, diantaranya adalah:     

o  Pemutusan hubungan perawat – klien  dalam sementara waktu

o  Catat semua tindakan dan respon / reaksi klien

           





4.4.6 Dasar Strategi Dalam Melaksanakan Tindakan

            Supaya tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien tepat sasaran dan sesuai dengan rencana yang telah ditetepkan, maka ada beberapa strategi yang harus diperhatikan, yaitu:

  1. Proses belajar mengajar terjadi dalam tindakan keperawatan
  2. Komunikasi 2 arah antara perawat – kien sehigga terjadi saling pengertian dan saling percaya
  3. Keterampilan psikomotorik yang dikuasai oleh perawat dalam membantu memenuhi kebutuhan klien
  4. Kerjasama antara perawat dengan team kesehatan lain
  5. Kepemimpinan keperawatan dalam mengelola asuhan keperawatan yang diberikan pada pasien



4.5 EVALUASI KEPERAWATAN

Evaluasi merupakan tahapan paling akhir dalam proses keperawatan. Evaluasi adalah perbandingan yang sistematik dan terencana dari status kesehatan klien dengan tujuan yang telah ditetapkan. Pada tahap evaluasi ini bagaimana seorang perawat membandingkan data saat pasien sebelum dan setelah dilakukan asuhan keperawatan.



4.5.1 Tujuan evaluasi :



1. Tujuan Umum :

a. Menjamin asuhan keperawatan secara optimal

b. Meningkatkan kualitas asuhan keperawatan



2. Tujuan Khusus

a. Mengevaluasi apakah tujuan tercapai atau belum

            b. Dapat menentukan penyebab bila tujuan belum tercapai



4.5.2 Guna Evaluasi Proses Keperawatan

1.    Menentukan perkembangan kesehatan klien

2.    Menilai efektivitas, efisiensi dan produktivitas asuhan keperawatan

3.    Menilai pelaksanaan asuhan keperawatan

4.    Sebagai umpan balik utk memperbaiki atau menyusun siklus baru dalam proses asuhan keperawatan

5.    Menunjang tanggung gugat dan tanggung jawab pelaksanaan asuhan keperawatan



4.5.3 Teknik Evaluasi Proses Keperawatan :



1. Wawancara

Dilakukan pada klien, keluarga atau orang lain yang ada hubungannya dengan klien



2. Pengamatan

Observasi terhadap sikap, pelaksanaan, hasil yang dicapai dan perubahan tingkah laku klien



3. Studi Dokumenter

Mempelajari tentang catatan keperawatan dan kesehatan klien



4.5.4 Langkah Evaluasi Proses Keperawatan

            Pada saat perawat melakukan evaluasi tindakan keperawatan yang telah dilakukan, supaya evaluasi berjalan dengan baik dan benar harus melalui beberapa langkah, yaitu:

  1. Mengumpulkan data baru tentang klien
  2. Menafsirkan data baru
  3. Membandingkan data baru dengan standar yang berlaku



4.5.5 Jenis Evaluasi Proses Keperawatan :

            Secara umum evaluasi proses keperawatan terdiri dari 2 jenis, yaitu:

1. Evaluasi Formatif

Evaluasi formatif adalah evaluai yang dilakukan setelah melakukan suatu tindakan keperawatan



2. Evaluasi Sumatif

Evaluasi hasil observasi dan analisis status kesehatan klien pada waktu tertentu berdasarkan tujuan yang direncakan pada tahap perencanaan



Alat Ukur à Tujuan tercapai atau tidak



4.5.6 Hasil Evaluasi :

            Secara konsep hasil evaluasi proses keperawatan terhadap klien terdiri dari 3 macam, yaitu:

1. Tujuan Tercapai

            Jika dari hasil evaluasi didapatkan data klien menunjukan perubahan sesuai dengan standar yang ditetapkan.

Contoh :

Diagnosa: bersihan jalan tidak efektif b/d penumpukan sekret ditandai oleh klien kelihatan sesak nafas, klien kelihatan gelisah, adanya bunyi napas yang abnormal, frekuensi nafas 34 kali/menit, irama nafas irreguler, klien mengatakan ada dahak pada saluran napanya tetapi tidak mau keluar saat dia batuk.



Tujuan : klien mampu mengeluarkan sekresi paru tanpa bentuan pada tanggal 2 Februari 2011 dengan kiteria hasil klien tidak kelihatan sesak, klien kelihatan tenang, suara napas normal, frekuensi pernafasan normal (16-20 kali/menit)



Evaluasi :

S          : sekarang saya bisa mengeluarkan dahak dengan cara batuk efektif  

O         : paru-paru bersih pada saat di auskultasi

A         : gangguan bersihan jalan nafas sudah teratasi (7an tercapai)

P          : pertahankan kebersihan jalan napas



2. Tujuan tercapai sebagian

            Jika data yang diperoleh dari klien  menunjukan perubahan sebagian dari standar, sehingga masih perlu mendapatkan perawatan

Contoh :

Diagnosa: bersihan jalan tidak efektif b/d penumpukan sekret ditandai oleh klien kelihatan sesak nafas, klien kelihatan gelisah, adanya bunyi napas yang abnormal, frekuensi nafas 34 kali/menit, irama nafas irreguler, klien mengatakan ada dahak pada saluran napanya tetapi tidak mau keluar saat dia batuk.



Tujuan   : klien mampu mengeluarkan sekresi paru tanpa bentuan pada tanggal 2 Februari 2011 dengan kiteria hasil klien tidak kelihatan sesak, klien kelihatan tenang, suara napas normal, frekuensi pernafasan normal (16-20 kali/menit)

Evaluasi :

S      : sekarang saya membatukan tapi dahak yang keluar hanya sedikit

O     : saat auskultasi didengar bunyi paru abnormal, RR 18 x/mnt, irama teratur

A     : gangguan bersihan jalan nafas masih ada (7an tercapai sebagian)

P      : lanjutkan latihan batuk efektif secara teratur



3. Tujuan tidak tercapai

            Jika data yang diperoleh dari klien tidak ada menunjukan perubahan kearah kemajuan

Contoh:

Diagnosa: bersihan jalan tidak efektif b/d penumpukan sekret ditandai oleh klien kelihatan sesak nafas, klien kelihatan gelisah, adanya bunyi napas yang abnormal, frekuensi nafas 34 kali/menit, klien mengatakan ada dahak pada saluran napanya tetapi tidak mau keluar saat dia batuk.



Tujuan   : kien mampu mengeluarkan sekresi paru tanpa bentuan pada tanggal 2 Februari 2011 dengan kiteria hasil klien tidak kelihatan sesak, klien kelihatan tenang, suara napas normal, frekuensi pernafasan normal (16-20 kali/menit)



Evaluasi :

S       : sekarang saya tetap batuk, dan saya merasa banyak dahak dalam dada saya

O      : saat auskultasi didengar bunyi paru abnormal, frekunesi pernasan 24x/mnt,

            irama ireguler

A      : gangguan bersihan jalan nafas masih ada (7an tidak tercapai)

    P        : lanjutkan claping, suction bila perlu, latihan batuk efektif, berikan minum

                 hangat, kolabrasi untuk pengencer dahak





















BAB V

Teori Model Keperawatan



5.1 Pengetian Teori Keperawatan

Teori merupakan sekelompok konsep yang mementuk sebuah pola yang nyata suatu pernyataan yang menjeaskan suatu proses atau peristiwa. Sedangkan teori keperawatan merupakan usaha untuk menguraikan atau menjelaskan fenomena mengenai keperawatan.



5.2 Faktor Yang Mempengaruhi Teori Model Keperawatan

            Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi perkembangan teori model keperawatan, diataranya adalah:

1. Kebudayaan

            Sebagai contoh pada zaman dahulu perawat adalah wanita dan perawat adalah anak buah dokter, tetapi sekarang yang jadi perawat bukan hanya wanita tetapi ada juga pria, serta sekarang perawat bukan lagi anak buah dokter tetapi mitra kerja dokter dalam memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.



2. Sistim pendidikan

Pada mulanya keperawatan belum punya sistim pendidikan yang jelas tetapi sekarang sudah memiliki sistim pendidikan dan kurikulum akurat. Sistem pendidikan perawat saat ini sudah bisa mengikuti perkembangan limu profesi lainnya dibidang kesehatan. Pada saat ini keperawatan telah memiliki jenjang pendidikan sampai tingkat S2. Ini menandakan ilmu keperawatan dapat bersaing dengan disiplin ilmu lain di bidang kesehatan.



3. Pengembangan ilmu keperawatan

Adanya pengelompokan ilmu keperawatan keperawatan klinik, keperawatan komunitas dan ilmu keperawatan lainnya.



5.3 Karakteristik Teori Model Keperawatan

            Secara umum ada 5 karakteristik teori model keperawatan, diantaranya adalah:

  1. Teori keperawatan mengidentifikasi dan menjabarkan konsep khusus yang berhubungan dengan hal yang nyata dalam keperawatan
  2. Teori keperawatan digunakan berdasarkan alasan yang sesuai dengan kenyataan yang ada
  3. Harus konsisten sebagai dasar dalam mengembangkan model konsep keperawatan
  4. Dalam menunjang aplikasi teori harus sederhana dan bersifat umum agar dapat digunakan dalam kondisi apapun
  5. Dapat digunakan sebagai dasar dalam penelitian keperawatan agar dapat digunakan sebagai pedoman praktek keperawatan



5.4 Tujuan  Teori Model Keperawatan

            Secara umum ada beberapa tujuan teori model keperawatan, diantaranya adalah:

  1. Memberikan alasan tentang kenyataan yang dihadapi dalam pelayanan keperawatan, baik bentuk tindakan maupun model praktek keperawatan
  2. Membantu anggota profesi perawat untuk memahami berbagai pengetahuan dalam membrerikan asuhan keperawatan
  3. Membentu proses penyelesaian masalah dalam keperawatan
  4. Memberkan dasar dan asumsi keperawatan sehingga pengetahuan dan pemahaman dalam tindakan keperawatan dapat terus bertambah dan berkembang



5.5 Teori Model Keperawatan Menurut Imogene King

            Teori model keperawatan menurut Imogene King dikenal juga dengan teori ”konsep Intarakasi. Teori ini terdiri dari 3 komponen yaitu :

  1. Sistim Personal
  2. Sistim interpersonal
  3. Sistim sosial



Ad1) Sistim Personal

            Sistem personal menurut Imogene King terdiri dari empar komponen yaitu:

a. Persepsi

Persepso merupakan gambaran seseorang tentang subjek, orang atau kejadian-kejandian.Persepsi akan berbeda antara seorang dengan yang lain karena :

o   Pengalaman masa lalu

o   Latar belakang

o   Pengetahuan

o   Status emosi

o   Jaringan social





b. Pertumbuhan Dan Perkembangan

Pertumbuhan merupakan perubahan dalam besar, jumlah, ukuran, tingkat sel, organ mapun individu yang bisa diukur dengan berat dan ukuran panjang. Sedangkan perkembangan adalah bertambahnya kemampuan (skil) dalam strutur dan fungsi tubuh yang lebih komplek dalam pola yang teratur, dapat diramalkan sebagai hasil kematangan. Sebagai contoh adalah perkembangan emosi dan intelektual.



c. Gambaran Diri

Gambaran diri merupakan bagaimana orang merasakan tubuhnya dan reaksi lain untuk penampilannya

d. Self (Diri Sendiri)

Diri sendiri merupakan gabungan fikiran dan perasaan ang mengangkat seseorang tentang keberadaannya (gambran tentang apa dan siapa dirinya)

   

Ad2) Sistim Interpersonal

Sistem interpersonal terbentuk atas dasar hubungan antar manusia, kalau dirumah sakit bisa dilihat dari hubungan perawat dengan klien, hubungan perawat dengan perawat, hubugan perawat dengan keluarga klien ataupun hubngan perawat dengan tim kesehatan lain.

Secara umum hubungan yang terjadi dalam system interpersonal ada 3 tingkatan yaitu:



  1. Dyat    

Suatu interaksi manusia yang terkadi antara 2 orang manusia

  1. Triad    à interaksi 3 orang    

Suatu interaksi manusia yang terjadi antara 3 orang manusia

  1. Group à interaksi 4 orang atau lebih

Suatu interaksi manusia yang terjadi antara 4 orang atau lebih



Menurut Imogene King konsep interpersonal sistem terdiri dari 5 komponen utama yaitu:



  1. Interaksi

Merupakan tingkah laku yang dapat diobservasi dari 2 orang atau lebih, didalamya terdapat hubungan timbal balik. Adanya kerja sama, saling ketergantungan, berisi komunikasi verbal dan non verbal dan disini terjadi komunikasi 2 arah.

  1. Komunikasi

Merupakan informasi yang diberikan dari satu orang ke orang lain baik lansung (face to face) maupun tidak lansung seperti komunikasi melalui telepon, komunikasi melalui surat dan cara lainnya yang bisa menyampaikan informasi dari seseorang kepada orang lain.



Aspek perilaku non verbal akan mempengaruhi seseorang dalam berkomunikasi. Perilkau non verbal yang baik bisa membantu seseorang untuk menjalin hubungan yang hangat dalam berkomunikasi dengan lawan bicaranya, begitu pula sebaliknya. Ada beberapa aspek perilaku non verbal yang bisa mempengaruhi seseorang dalam berkomunikasi, diantaranya adalah:

  1. Jarak
  2. Postur
  3. Ekpresi wajah
  4. Penampilan fisik
  5. Gerakan tubuh



  1. Transaksi :

Merupakan proses interaksi dimana manusia berkomunikasi dengan lingkungannya untuk mencapai tujuan yang dia inginkan



  1. Peran (Role)

Merupakan tingkah laku yang diharapkan dari seseorang terhadap orang lain sesuai dengan kedudukannya dalam masyarakat.

            Peran terdiri dari 3 macam elemen utama, yaitu :

a.       Berisi set perilaku yang diharapkan pada orang yang menduduki posisi atau sosial sistim

b.      Merupakan set prosedur atau peraturan yang ditentukan oleh hak dan kewajiban yang berhubungan dengan prosedur atau organisasi

c.       Hubungan 2 orang atau lebih berinteraksi untuk tujuan dan pada situasi tertentu



  1. Stress

Stres adalah keadaan dinamis dimana manusia berinteraksi dengan lingkungan untuk memelihara keseimbangan pertumbuhan, perkembangan dan perbuatan yang melibatkan pertukaran energi dan informasi antara seseorang dengan lingkungan untuk mengatur stressor.



Ad3) Sistim Sosial

Sebagai sistim pembatas peran organisasi sosial, perilaku dan praktek yang dikembangkan untuk memelihara nilai-nilai dan mekanisme pengaturan antara praktek dan aturan. Sebagai contoh sosial sistem adalah keluarga, kelompok keagamaan dan kelompok teman sebaya.

            Menurut King system sosial dalam konsep interaksinya terdiri dari 5 komponen utama, yaitu :

  1. Organisasi, ada beberapa konsep sebagai parameter organisasi menurut “King”, diantaranya adalah:

a.       Adanya nilai-nilai manusia, pola perilaku, tujuan dan harapan

b.       Adanya lingkungan yang natural dimana materi dan sumber daya manusia adalah esensial untuk mencapai tujuan 

c.       Memuliki majikan-pekerja, anak-orang tua membentuk kelompok secara kolektif untuk mencapai suatu tujuan

d.       Adanya teknologi yang mempermudah pencapaian suatu tujuan



  1. Authority

Merupakan proses transaksi yang timbal balik antara pemegang kekuasaan dengan bawahan. Ini bertujuan suapaya adanya cara dalam menentukan perintah, bimbingan serta cara dalam memberikan penghargaan dan sangsi.



  1. Power

Merupakan kekuatan sosial yang mengorganisir dan memelihara masyarakat dan kemampuan untuk menggunakan dan memobilisasi sumber-sumber dalam mencapai tujuan



  1. Status

Merupakan posisi seseorang dalam kelompok atau kelompok dalam hubungannya dengan kelompok lain dalam suatu organisasi



  1. Desecion making

Merupakan proses yang dinamis dan sistematik untuk memilih alternatif  tindakan untuk menjawab pertanyaan dalam mencapai tujuan



Sekama Gambaran Konsep “KING”



FEED BACK



             NERS



AKSI                    REAKSI               INTERAKSI             TRANSAKSI



             KLIEN                                             FEED BACK

  1. Aksi :

Merupakan proses awal hubungan 2 individu dalam berperilaku, dalam memaham kondisi yang ada dalam keperawatan dengan menggambarkan hubungan perawat-klien untuk melakukan kontrak    

  1. Reaksi:

            Suatu bentuk tindakan yang terjadi akibat adanya aksi

  1. Interaksi :

Suatu bentuk kerja sama yang saling mempengaruhi antara  perawat-klien yang terwujud dlm komunkasi

  1. Transaksi

Suatu kondisi dimana antara perawat-klien terjadi suatu persetujuan dalam rencana tindakan keperawatan yg akan dilakukan




































































www.pustakakeperawatan.blogspot.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar